Halaman 1 dari 2
Mbah Slamet 'Bintaro', begitu dia biasa disapa, adalah masinis KA 225, kereta api yang berangkat dari Stasiun Sudimara kemudian bertabrakan dengan KA 220 yang datang dari arah berlawanan. Dua kereta itu 'adu banteng' hingga membuat 156 nyawa melayang dan ratusan lainnya luka-luka. Kejadian berlangsung pada Senin 19 Oktober 1987.
Meski sudah terjadi sekitar 26 tahun lalu, peristiwa itu masih terus menempel dalam ingatan Slamet. Dia masih hapal kronologi kejadian menit per menit hingga akhirnya terjadi tabrakan.
"Saya sempat ngerem luar biasa, namanya juga pengen hidup. Tapi karena jaraknya terlalu dekat, nggak bisa," kata Slamet saat ditemui di kediamannya di Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo, Jateng, Kamis (12/12/2013).
Kala itu, Slamet merasa sudah mendapat izin dari pihak Stasiun Sudimara untuk melajukan kereta. Kondekturnya sudah naik, lalu tak ada gerakan apa pun untuk menghentikan kereta. Selain itu, dia juga yakin tak akan ada kereta yang diberangkatkan dari arah berlawanan karena dia sudah mengantongi Pemindahan Tempat Persilangan (PTP).
"Kalau udah punya PTP nggak boleh ada yang berangkat lagi," imbuhnya.
Tapi ternyata KA 220 tetap berangkat dari Stasiun Kebayoran. Tabrakan dahysat itu pun terjadi. Slamet yang berada di ruangan kabin masinis terpental. Seluruh tubuhnya mengalami luka, bahkan ada yang tertusuk pecahan kaca. Next






0 komentar:
Posting Komentar